PARIMO, bawainfo.id – Manajemen RSUD Anuntaloko Parigi terus melakukan pembenahan terhadap sistem pengadaan obat sebagai bagian dari upaya meningkatkan mutu pelayanan kesehatan. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kebutuhan obat bagi pasien dapat terpenuhi secara cepat, tepat, dan berkelanjutan.
Pembenahan tersebut dilakukan setelah rumah sakit mengevaluasi sejumlah kendala dalam rantai pasok obat, mulai dari keterlambatan distribusi hingga penyelesaian kewajiban pembayaran kepada perusahaan farmasi. Dengan perbaikan sistem yang sedang berjalan, manajemen berharap ketersediaan stok obat dapat terjaga sehingga pelayanan kepada masyarakat tidak terganggu.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur RSUD Anuntaloko Parigi, Irwan, mengatakan keterlambatan ketersediaan beberapa jenis obat bukan berarti rumah sakit tidak melakukan pemesanan. Menurutnya, sejumlah obat sebenarnya telah dipesan, namun proses pengiriman dari distributor belum tiba saat obat tersebut dibutuhkan oleh pasien.
“Yang perlu dipahami, bukan berarti obat itu tidak kami pesan. Ada beberapa item yang sudah dipesan, tetapi pengirimannya belum tiba ketika obat tersebut dibutuhkan oleh pasien,” ujar Irwan saat ditemui di ruang kerjanya, Sabtu (24/1/2026).
Ia menjelaskan, selama obat yang dibutuhkan masih masuk dalam Formularium Nasional (Fornas), rumah sakit akan berupaya memenuhinya melalui instalasi farmasi. Hanya saja, dalam kondisi tertentu, keterlambatan distribusi dari penyedia membuat beberapa jenis obat belum tersedia sesuai kebutuhan pelayanan.
Menurut Irwan, kondisi tersebut menjadi perhatian serius manajemen. Karena itu, rumah sakit kini membenahi perencanaan kebutuhan obat, mekanisme pemesanan, hingga pengawasan distribusi agar proses pengadaan menjadi lebih efektif dan mampu mengantisipasi kebutuhan pelayanan.
“Kami terus memperbaiki sistem pengadaan agar prosesnya lebih terencana, lebih cepat, dan mampu mengantisipasi kebutuhan pelayanan di rumah sakit,” katanya.
Ia mengungkapkan, salah satu langkah yang ditempuh sejak dipercaya memimpin RSUD Anuntaloko adalah mempercepat pembayaran tunggakan kepada perusahaan farmasi. Kebijakan tersebut diambil untuk memulihkan kepercayaan mitra penyedia sekaligus memastikan distribusi obat kembali berjalan lancar.
“Ketika saya mulai bertugas, salah satu keputusan pertama yang saya ambil adalah menyelesaikan pembayaran utang obat. Itu penting agar kerja sama dengan penyedia kembali normal dan distribusi obat tidak mengalami hambatan,” jelasnya.
Meski penyelesaian kewajiban pembayaran masih dilakukan secara bertahap, manajemen memastikan pemenuhan kebutuhan obat bagi pasien tetap menjadi prioritas. Di sisi lain, penggunaan obat juga terus dikelola secara efisien tanpa mengurangi kualitas pelayanan medis.
Irwan juga membantah anggapan bahwa rumah sakit mengarahkan pasien membeli obat di luar apotek RSUD. Ia menegaskan, selama obat tersedia di instalasi farmasi rumah sakit, pasien akan memperoleh obat sesuai kebutuhan pelayanannya.
“Kami tidak pernah memiliki kebijakan meminta pasien membeli obat di luar. Selama obat tersedia di rumah sakit, tentu akan kami berikan sesuai kebutuhan pelayanan pasien,” tegasnya.
Menurut Irwan, berbagai kritik dan masukan dari masyarakat menjadi bagian penting dalam proses perbaikan pelayanan. Karena itu, pihaknya berkomitmen terus melakukan evaluasi agar kualitas layanan kesehatan di RSUD Anuntaloko semakin baik.
“Kami sangat menghargai setiap masukan dari masyarakat. Kritik yang disampaikan akan kami jadikan bahan evaluasi untuk terus memperbaiki pelayanan dan memberikan yang terbaik bagi masyarakat,” pungkasnya.




