Morowali, bawainfo.id – Distribusi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi di SPBU Emea, Kabupaten Morowali, diduga tidak tepat sasaran. Setiap Kamis malam menjelang Jumat, puluhan truk pengangkut material tambang galian C disebut rutin mengisi solar dalam jumlah besar, membuat stok BBM cepat habis sebelum masyarakat umum sempat mendapatkannya.
Seorang warga Emea yang enggan disebutkan namanya demi alasan keamanan mengungkapkan bahwa kondisi tersebut sudah berlangsung lama dan terjadi secara berulang setiap pekan. “Di SPBU Emea itu, mobil truk antre setiap Kamis malam Jumat. Pagi harinya sudah habis,” ujarnya. Selasa, 7 Juni 2026.
Menurut warga, aktivitas pengisian tersebut diduga melibatkan armada dari usaha galian C yang disebut milik seorang pengusaha berinisial Alam. Dalam satu kali pengisian, kendaraan-kendaraan tersebut disebut mampu menghabiskan puluhan jerigen besar solar subsidi.
Kondisi ini berdampak langsung pada masyarakat sekitar. Warga yang membutuhkan solar untuk kebutuhan harian, seperti nelayan dan petani, kerap harus pulang tanpa mendapatkan BBM karena stok telah habis lebih dulu. Antrean kendaraan di SPBU Emea pun semakin panjang, sementara ketersediaan solar subsidi menjadi tidak menentu.
Padahal, berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 191 Tahun 2014, penggunaan BBM bersubsidi dibatasi hanya untuk sektor tertentu seperti kendaraan pribadi, nelayan, dan n BBM subsidi.
Sementara itu, Manajemen SPBU Emea yang diwakili Eken menyatakan telah memberikan instruksi kepada petugas agar penyaluran BBM mengikuti aturan, termasuk penggunaan barcode dan pencatatan kendaraan.
“Di SPBU saya, saya instruksikan pengawas dan operator agar mengisi BBM subsidi menggunakan barcode dan mobil,” ujarnya melalui pesan WhatsApp.
Namun pihak SPBU juga menegaskan bahwa apabila terjadi penyalahgunaan atau penjualan solar subsidi di luar mekanisme resmi, hal tersebut berada di luar tanggung jawab langsung pihak pengelola.
Di sisi lain, pengusaha galian C yang disebut berinisial Alam dari CV Cahaya Alam Makmur juga memberikan tanggapan. Ia mengklaim bahwa kebutuhan solar untuk armadanya dipenuhi dari pengecer di luar SPBU, bukan sepenuhnya dari jalur resmi.
Ia juga menyebut keterbatasan pasokan menjadi alasan penggunaan sumber BBM yang ada, serta menegaskan bahwa usahanya melayani kebutuhan masyarakat dalam pengangkutan material dengan harga terjangkau.
Hingga kini, belum terlihat adanya tindakan penegakan hukum terhadap dugaan penyalahgunaan distribusi BBM subsidi tersebut, sementara aktivitas galian C di wilayah itu masih terus berlangsung seperti biasa.
Situasi ini menambah sorotan publik terhadap pengawasan distribusi solar bersubsidi di wilayah Morowali, yang dinilai perlu diperketat agar tepat sasaran dan tidak merugikan masyarakat kecil.










